Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2016

Interaksinonisme simbolik

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: interaksionisme simbol

Di dekat sebuah warkop, tiga ekor anjing sedang berkelahi. Anjing yang satu mulai menggertak dengan menggeram, menunjukkan deretan giginya, dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menyergap lawannya. Anjing kedua ketakutan, lalu lari tunggang langgang karena tubuhnya memang paling kecil, sementara anjing ketiga menanggapi yang pertama dengan juga menggeram dan menunjukkan giginya, siap untuk balas menyerang. Anjing pertama setelah melihat reaksi anjing ketiga akan menunjukkan perubahan diri, ia memperkeras geramannya. Hal ini mengundang respon anjing ketiga tersebut, dan seterusnya.

Dua mahasiswa yang sedang duduk di warkop tersebut melihat anjing yang berkelahi itu, tadinya sedang bertukar cerita tentang orang tua masing-masing. Anak pertama berseru melihat anjing yang hendak berkelahi itu, dan membelokkan pembicaraan menjadi tentang anjingnya yang dua tahun lalu hilang. Ternyata anak kedua tak menyukai topik pembicaraan itu, ia memberi respon dengan melihat ke langit-langit, sesekali melihat jam tangannya, dan seterusnya
Perilaku tiga anjing dan dua mahasiswa itu merupakan ikhwal bahasa isyarat. Menunjukkan gigi sambil menggeram, lari tunggang langgang, melihat langit-langit dan jam tangan, dan seterusnya merupakan bahasa isyarat, masing-masing kemarahan, rasa takut, dan kebosanan. Ini adalah inti dari teori interaksionisme simbol yang didirikan oleh sosiolog Amerika, George Herbert Mead (1863-1931), yang juga dikenal sebagai seorang sosiolog pragmatis, karena ia berkeyakinan bahwa semua teori sosial yang ada harus dapat diuji secara praktis, termasuk semua hal tentang kebenaran, pengetahuan, moralitas, dan politik. Interaksionisme simbol merupakan teori yang dicanangkannya sebagai studi perilaku individu dan atau kelompok kecil masyarakat melalui serangkaian pengamatan dan deskripsi. Metode ini berlandaskan pada pengamatan atas apa yang diekspresikan orang meliputi penampilannya, gerak-geriknya, dan bahasa simbolik yang muncul dalam situasi sosial. Jadi sangat berbeda dengan pendekatan yang terinspirasi dari Marxisme yang ingin mempelajari seluruh sistem ekonomi dan politik, para interaksionis mengambil cara pandang akan masyarakat dari bawah, sebagaimana situasi yang diciptakan oleh individu-individu tersebut.

Dengan pendekatan ini Mead dikenal juga sebagai seorang psikolog sosial, karena memang pada akhirnya ia banyak berbicara tentang proses berfikir, konsep diri dalam organisasi sosial, dan pola-pola pengambilan peran orang lain sebagai dasar organisasi sosial.

Kontribusi untuk teori sosial ini juga dilakukan oleh Charles Horton Cooley (1864-1929), seorang sosiolog Amerika yang pernah dekat dengan Mead. Cooley membangun teori relasi sosial yang tak bertitik berat pada kondisi individual (MIKRO) maupun sosial (MAKRO), dengan meyakini bahwa kedua hal itu tak bisa dipisah-pisahkan. Cooley banyak berbicara tentang konsep diri (disebutnya konsep melihat diri di kaca), sifat-sifat manusia, kelompok primer dalam pembentukan sifat manusia, interaksi antara pemimpin politik dan massanya, dan pentingnya arti sosial dalam nilai keuangan. Dalam beberapa hal, Cooley menunjukkan dilema yang dihadapi antara hal-hal yang menjadi warisan biologis dan hal-hal yang menjadi warisan lingkungan sosial.

Hal menarik yang ditunjukkan oleh Cooley adalah perumpamaannya yang mengatakan bahwa sebuah kapal yang dibangun oleh seratus orang yang berbeda, sangat berbeda dengan seratus kapal yang masing-masing dibangun oleh satu orang untuk menjelaskan terjadinya pandangan umum dalam masyarakat yang dibentuk oleh pandangan-pandangan umum yang dimiliki oleh tiap individu yang membangun masyarakat. Pandangan umum MEMBROJOL (emergent) dari pandangan-pandangan individual. Inilah yang menjadi pusat kajiannya.

Di sisi lain, William I. Thomas (1863-1947), juga sosiolog interaksionis Amerika, memusatkan teorinya atas sifat saling ketergantungan organis antar individu dan lingkungan sosialnya dengan metoda yang hampir dapat dikatakan sama dengan metode Mead dan Cooley. Misalnya, Thomas berusaha mengidentifikasi faktor-faktor psikologis dan biologis yang dibawa sejak lahir dan menjelaskan perilaku manusia itu; ia menyimpulkan ada empat hal dasar keinginan manusia, yaitu

(1)keinginan untuk pengalaman baru

(2) keinginan untuk dihargai

(3) keinginan untuk menguasai

(4) keinginan untuk merasa aman

Thomas yakin bahwa perilaku manusia tidak dapat dimengerti dengan baik semata sebagai respon reflektif dari stimulus lingkungan. Ia percaya bahwa ada definisi subyektif yang penting yang ada di antara stimulus dan respon.

Interaksionisme simbol Mead-Cooley-Thomas ini mendapat sambutan dari banyak sosiolog Amerika bahkan hingga kini.

Manford Kuhn (1904-1968), sosiolog yang ingin menstrukturkan metodologi empiris dalam interaksionisme simbol, menyatakan bahwa perlu beberapa perspektif teoretis yang sifatnya terbatas yang tergabung dalam interaksionisme, yaitu teori peran, teori kelompok referens, perspektif persepsi sosial dan persepsi pribadi, teori diri, dan teori dramaturgi. Intinya, Kuhn ingin membuat strategi pengukuran empiris atas konsep-konsep interaksionisme simbol tersebut. Kontribusinya yang terkenal adalah 20-UJI-PERNYATAAN untuk mengukur analisis diri; isinya adalah 20 respon yang diminta dari orang terhadap pertanyaan “Siapakah saya?”.

Hal ini ditentang oleh seorang murid Mead, Herbert Blumer (1900-1987), dengan mengatakan bahwa metoda pengukuran empiris itu bertentangan dengan konsep BROJOLAN (emergence) dari kenyataan sosial. Bagi Blumer, brojolan itu lahir dari aksi dan interaksi, dan segala upaya yang ingin mengukur konsep diri tanpa memperhitungkan aksi dan interaksi berakibat fatal dan gagal dalam mengukur konsep diri dalam sistem sosial. Bagi Blumer, kenyataan sosial dan strukturnya pada dasarnya tak pernah tetap melainkan terus memiliki dinamika oleh karena interaksi antar individu tak pernah berhenti. Segi-segi struktural seperti budaya, sistem sosial, stratifikasi sosial, atau peran sosial MEMBENTUK tindakan individu, tapi TIDAK MENENTUKAN tindakan mereka. Orang yang bermain sebagai penjaga gawang dalam permainan sepak bola TERBENTUK perilakunya dalam pertandingan sepak bola, tapi TIDAK MENENTUKAN bagaimana ia harus bertindak saat gawangnya terancam serangan lawan.

Seorang sosiolog interaksionis lain, Erving Goffman (1922-1983), menitikberatkan teorinya pada konsep dramaturgi. Ia menganalisis berbagai strategi individu dalam meraup kepercayaan sosial melalui konsep-konsep teater, seperti manajemen kesan dan sebagainya. Misalnya, ia menganalisis bagaimana orang cenderung untuk saling menutupi kesalahan dengan teman, atau minimal berpura-pura tidak tahu dan tidak memperhatikan kesalahan teman, dan seterusnya. Pendeknya, baginya sosiologi adalah upaya membedah interaksi antar individu atau kelompok kecil dengan audiensnya, yaitu sistem sosial secara keseluruhan. Lebih jauh ia juga banyak berbicara tentang dasar kontekstual interaksi sosial seperti PEMAHAMAN BERSAMA sebagai KERANGKA di mana peristiwa-peristiwa sosial terjadi. Pendeknya dengan memperhatikan simbol-simbol yang digunakan oleh individu dalam interaksi sosial, interaksionis berkeinginan untuk mencari keterhubungan antara BROJOLAN yang terjadi dari tingkat MIKROSOSIAL ke MAKROSOSIAL secara komprehensif.

Konsep Diri

Inti dari teori interaksionisme simbolik adalah tentang’diri’ (self) dari George Herbert Mead, yang juga dapat dilacak dari definisi diri dari Charles Horton Cooley. Mead, seperti juga Cooley, menganggap bahwa konsepsi-diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain. Cooley mendefinisikan ’diri’ sebagai sesuatu yang dirujuk dalam pembicaraan biasa melalui kata ganti orang pertama tunggal, yaitu ’aku’ (i), ’daku’ (me), ’milikku’ (mine), dan ’diriku’(myself). Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang dikaitkan dengan ’diri’ menciptakan emosi yang lebih kuat daripada yang tidak dikaitkan dengan ‘diri’, bahwa ‘diri’ dapat dikenal hanya dengan melalui perasaan subjektif. Seraya meluncurkan teorinya mengenai the looking glass self, Cooley berpendapat bahwa konsep diri individu secara signifikan ditentukan oleh apa yang ia pikirkan tentang pikiran orang lain mengenai dirinya, jadi menekankan mengenai pentingnya respon orang lain yang ditafsirkan secara subjektif sebagai sumber primer data mengenai diri.

Bagi Cooley dan Mead, ‘diri’ muncul karena komunikasi. Tanpa bahasa, manusia tidak akan berkembang. Manusia unik karena memiliki kemampuan memanipulasi simbol-simbol berdasarkan kesadaran. Simbol adalah suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respon manusia terhadap simbol adalah dalam pengertian makna dan nilainya. Makna suatu simbol bukanlah pertama-tama ciri fisiknya, namun apa yang dilakukan mengenai simbol tersebut.

William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai ”those physical, social, and psycological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others” (1974:40, dalam Rakhmat, 2005). Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini bisa bersifat psikologis, sosial, dan fisis. Secara sederhana, gambaran mengenai konsep diri dapat dijelaskan menurut pandangan Charles Horton Cooley yakni, kita membayangkan diri kita sebagai orang lain; dalam benak kita (looking glass self); seakan-akan kita menaruh cermin di depan kita. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain; kita melihat diri kita sekilas seperti dalam cermin. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang menilai penampilan kita. Ketiga, kita mengalami perasaan bangga atau kecewa; orang mungkin merasa sedih atau malu (Vander Zanden, 1975:79, ed).

Dengan mengamati diri kita, sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita. Inilah yang disebut ”konsep diri.” Konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian kita tentang diri kita.Anita Taylormendefinisikankonsep diri sebagai “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”(1997:98). Dengan demikian, ada dua komponen dalam konsep diri, yakni: komponen kognitif, yang disebut citra-diri(self image), dan komponen afektif, yang disebut harga diri(self esteem).

Konsep diri seseorang dapat dilihat dari sikap mereka. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai,kehilangan daya tarik terhadap hidup, memiliki rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal-hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri, berani mencoba hal-hal baru dan menantang, berani sukses, berani gagal, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal (Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni2007, hlm. 67).

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orangtua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Menurut Mead, perkembangan diri terdiri dari dua tahap umum yang dia sebut tahap permainan (play stage) dan tahap pertandingan (game stage). Tahap permainan adalah perkembangan peran bersifat elementer yang memungkinkan anak-anak melihat diri mereka sendiri dari perspektif orang lain yang dianggap penting (significant others), khususnya orang tua mereka. Tahap ini ditandai dengan keaslian dan spontanitas anak-anak. Tahap pertandingan berasal dari proses pengambilan peran dan sikap orang lain secara umum (generalized others), yaitu masyarakat umumnya. Pada tahap kedua inilah, ketika anak memasuki komunitasnya, individu menjadi suatu objek dalam arti yang sesungguhnya.

Berikut ini faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang.

Orang lain

Gabriel Marcel, filosof ekstensialis yang mencoba menjawab misteri keberadaan,Mystery of Being, menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita, “the fact is that we can understand ourselves by starting from the other, or from others, and only by starting from them.” Kita mengenal diri kita dengan mengenal diri orang lain terlebih dahulu. Bagaimana anda melihat diri saya, akan membentuk konsep diri saya. Harry Stack Sullivan (1953, dalam Rakhmat, 2005) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung menghormati dan menerima diri kita.

Tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang dekat dengan diri kita. George Herbert Mead (1934) menyebut mereka significant others – orang lain yang sangat penting. Ketika kita masih kecil, mereka adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, dan orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Richard Dewey dan W. J. Humber (1966:105) menamainya affective others – orang lain yang dengan mereka kita mempunyai ikatan emosional. Dari merekalah kita secara perlahan-lahan membentuk konsep diri kita.

Dalam perkembangannya, significant othersmeliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita, dan menyentuh kita secara emosional. Orang-orang ini boleh jadi masih hidup atau sudah mati. Ketika kita tumbuh dewasa, kita mencoba menghimpun penilaian semua orang yang pernah berhubungan dengan kita. Pandangan diri kita terhadap keseluruhan pandangan orang lain terhadap kita disebut generalized others. Memandang diri kita seperti orang-orang lain memandangnya, berarti mencoba menempatkan diri kita sebagai orang lain. Kita mengambil peran orang lain (role taking) yang amat penting artinya dalam pembentukan konsep diri.

b. Kelompok rujukan (reference group)

Dalam bermasyarakat, manusia pasti menjadi anggota dari suatu kelompok. Setiap kelompok pasti mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Ini disebut kelompok rujukan. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya.Kalau kita memilih kelompok rujukan tertentu, maka kita akan menjadikan norma-norma dalam kelompok ini sebagai ukuran perilaku kita.

Teori Interaksionisme Simbolik

Para ahli perspektif interaksionisme simbolik melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang disepakati bersama (Mulyana, 2001:84).

Interaksi simbolik, menurut Herbert Blumer, merujuk pada … “karakter interaksi khusus yang berlangsung antar manusia.” Aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan mendefinisikan setiap tindakan orang lain. Respon aktor baik secara langsung maupun tidak langsung, selalu didasarkan atas makna penilaian tersebut. Oleh karenanya, interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain. Dalam konteks itu, menurut Blumer, aktor akan memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokan, dan mentransformasikan makna dalam kaitannya dengan situasi di mana dan ke arah mana tindakannya.

Teori interaksionisme simbolik sangat menekankan arti pentingnya “proses mental” atau proses berpikir bagi manusia sebelum mereka bertindak. Tindakan manusia itu sama sekali bukan stimulus – respon, melainkanstimulus – proses berpikir – respons. Jadi, terdapat variabel antara atau variabel yang menjembatani antara stimulus dengan respon, yaitu proses mental atau proses berpikir, yang tidak lain adalah interpretasi. Teori interaksionisme simbolik memandang bahwa arti/makna muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan. Arti dari sebuah benda tumbuh dari cara-cara dimana orang lain bersikap terhadap orang tersebut.

Teori interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis sosial manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan struktur yang ada di luar dirinya. Interaksilah yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat.

Esensi interaksionisme simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif ini berupaya untuk memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Teori ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka. Dalam pandangan perspektif ini, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakan kehidupan kelompok.

Menurut teoritisi perspektif ini, kehidupan sosial adalah “interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol.” Penganut interaksionisme simbolik berpandangan, perilaku manusia adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia di sekeliling mereka, jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan, sebagaimana dianut teori behavioristik atau teori struktural.

Di dalam bukunya yang amat terkenal, yaitu ”Symbolic Interactionism; Perspective, and Method,” Herbert Blumer menegaskan bahwa ada tiga asumsi yang mendasari tindakan manusia (dalam Sutaryo, 2005). Tiga asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

1)Human being act toward things on the basic of the meaning that the things have for them;

2)The meaning of the things arises out of the social interaction one with one’s fellow;

3)The meaning of things are handled in and modified through an interpretative process used by the person in dealing with the thing he encounters.

Premis pertama sampai ketiga itu mempunyai pengertian seperti ini.Pertama, bahwa manusia itu bertindak terhadap sesuatu (apakah itu benda, kejadian, maupun fenomena tertentu) atas makna yang dimiliki oleh benda, kejadian, atau fenomena itu bagi mereka. Individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) berdasarkan makna yang dikandung komponen tersebut bagi mereka.

Kedua, makna tadi diberikan oleh manusia sebagai hasil interaksi dengan sesamanya. Jadi, makna tadi tidakinherent, tidak terlekat pada benda ataupun fenomenanya itu sendiri, melainkan tergantung pada orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu. Makna dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu menamai segala sesuatu, bukan hanya objek fisik, tindakan, atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran objek fisik, tindakan, atau peristiwa itu) namun juga gagasan yang abstrak. Akan tetapi, nama atau simbol yang digunakan untuk menandai objek, tindakan, peristiwa, atau gagasan itu bersifat arbitrer (sembarang). Melalui penggunaan simbol itulah manusia dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang dunia.

Ketiga, makna tadi ditangani dan dimodifikasi melalui proses interpretasi dalam rangka menghadapi fenomena tertentu lainnya. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Menurut Ritzer, kesimpulan utama yang perlu diambil dari substansi teori interaksionisme simbolik adalah sebagai berikut. Kehidupan bermasyarakat itu terbentuk melalui proses komunikasi dan interaksi antarindividu dan antarkelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses interaksi itu bukan semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya atau dari luar dirinya, melainkan dari hasil sebuah proses interpretasi terhadap stimulus. Jadi jelas, bahwa hal ini merupakan hasil proses belajar, dalam arti memahami simbol-simbol, dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol tersebut. Meskipun norma-norma, nilai-nilai sosial dan makna dari simbol-simbol itu memberikan pembatasan terhadap tindakannya, namun dengan kemampuan berpikir yang dimilikinya, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan tindakan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya. Singkatnya, bahwa symbolic interactionist (para pengikut teori interaksionisme simbolik) memberi dasar penalaran bahwa, there is a ‘minding’process that interveness between stimulus and response. It is this mental process, and not simply the stimulus, that determines how a man will react (Ritzer, 1980:194, dalam Sutaryo, 2005).